Dari Konstantinopel Sampai Jakarta

Sejak kapan sejarah Jakarta dipancangkan? Kenapa ulang tahun jatuh pada 22 Juni?
Tentang Jakarta, berikut ringkasannya.
Pada awalnya adalah Sunda Kelapa, kota pelabuhan nan ramai di salah satu sudut pantai utara Jawa pada abad 15. Catatan Portugis, pelabuhan Sunda Kelapa terbujur sepanjang sekitar dua kilometer di atas potongan-potongan tanah yang dibersihkan di kedua tepi sungai Ciliwung. Banyak singgah para pelaut dari luar seperti dari Sumatera, Malaka, Sulawesi, Jawa, Madura, dan luar benua.
Singkat cerita, pada 21 Agustus 1522 penguasa Sunda dan Portugis -yang sudah merebut Malaka pada 1511- menjalin kerja sama. Portugis akan membuat loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng) di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan.
Kerajaan Demak yang saat itu menjadi pusat kekuatan politik Islam di Jawa gerah dengan kerja sama tersebut, yang dianggapnya sebentuk provokasi. Demak menugaskan Fatahillah (Faletehan) untuk mengusir Portugis sekaligus merebut kota pelabuhan ini.
Pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) merebut Sunda Kelapa. Fragmen sejarah tanggal 22 Juni itulah yang hingga kini dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta. Sejak itu nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang artinya kota kemenangan atau kota kejayaan, dari istilah Sansekerta.
Demak tak selamanya berkuasa di Jayakarta. Pada akhir abad 16 Belanda masuk nusantara, dan tentu perlu basis untuk kegiatan utamanya berburu rempah-rempah. Pada 30 Mei 1619, Belanda merebut Jayakarta, dan membangun kota baru dengan nama Batavia. Awalnya akan dinamakan Nieuw Hoorn (Hoorn Baru), sesuai kota asalnya Hoorn di Belanda, tetapi akhirnya dipilih Batavia, nama sebuah suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah Belanda pada zaman Romawi.
Batavia sebagai pusat otoritas Belanda bertahan sampai 1942 seiring jatuhnya kekuasaan ke tangan Jepang. Sebagai bagian dari de-Nederlandisasi, nama kota Batavia diganti menjadi Jakarta, sedikit penyesuaian dari Jayakarta. Tapi bentuk bahasa Melayu Batavia, yakni Betawi, masih digunakan sampai sekarang. Nah, setelah ratusan tahun berjalan, Jakarta kini seperti ini adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Al-Fath, sebuah inspirasi

Nabi Muhammad [s.a.w.] pernah bersabda: "Akan ditaklukkan Konstantinopel, maka panglima perang terbaik adalah panglima perang yang memimpin penaklukan Konstantinopel, dan pasukan yang terbaik adalah pasukan itu".
Dan sejarah mencatat, seorang yang bernama Sultan Muhammad II yang kemudian dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih, menjadi orang yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Dan itu terjadi pada tanggal 27 Mei 1453M.
Uniknya, setelah Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, nama yang disandang seseorang dengan kata dasar huruf  'fa-ta-ha', menjadi begitu populer di dunia Islam, khususnya di Indonesia. Kita ambil contoh: Fatih Yunus (Patih Unus), Raden Fatah, dan Fatahilllah. Fatahillah Sang Penakluk Sunda Kelapa, mungkin terinspirasi oleh Muhammad Al-Fatih yang telah menaklukkan Konstantinopel.
Kota mana di dunia ini yang diambil dari salah satu surah di dalam Al-Quran selain Jakarta?
(MC)

Comments