Jakarta (ANTARA
News) - Calon Gubernur DKI Hidayat Nur Wahid berjanji tidak akan
menggusur pasar tradisional di Jakarta karena merupakan identitas
masyarakat itu sendiri.
"Pasar ini merupakan identitas. Kami akan terus berpihak pada para pedagang ini. Orientasi kami tidak akan menggusur pasar-pasar seperti ini, tapi nanti akan kami ajak kerja sama agar tidak kumuh," kata Hidayat kepada wartawan di Pasar Kaget Jalan Plumpang Semper, Jakarta Utara, Rabu.
Menurut dia, solusi untuk menata Jakarta tidak harus dengan menggusur pasar tradisional yang dianggap kumuh. Ia berjanji akan mengajak para pedagang untuk bekerja sama menata pasar.
"Solusinya adalah mengajak mereka di sini para pedagang, tokoh masyarakat, mengajak duduk bareng, bagaimana agar pasar ini tetap berjalan dengan bersih dan tidak kumuh," ujarnya pada hari ketiga kampanye Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada 11 Juli 2012.
Hidayat juga mengatakan akan mengevaluasi keberadaan minimarket dan supermarket yang disinyalir membunuh kehidupan pasar tradisional. Menurutnya, aturan mengenai keberadaan minimarket di Jakarta sudah baik, namun masih kurang dalam penegakan aturannya.
Menanggapi hal tersebut, Hidayat mengatakan bahwa memang harus ada regulasi untuk hal itu. Ia menjelaskan, sebenarnya hal demikian adalah wewenang menteri perdagangan. Namun demikian, menurut mantan Ketua MPR itu, bukan berarti gubernur tak berperan.
"Seorang gubernur hendaknya mengomunikasikan dengan pihak terkait untuk kepentingan rakyat juga", ujarnya.
Dengan mengusung semboyan "Ayo Beresin Jakarta" Hidayat menyambangi Pasar Sindang di Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Pada kesempatan itu, Hidayat tidak hanya berbaur dan bercerita serta mendengarkan keluhan warga pasar, dan membeli jamu dan gorengan.
Hidayat menyampaikan, ada dua pihak yang diuntungkan dengan traktiran itu, yakni pedagang serta mereka yang kebagian traktiran.
Mantan Presiden PKS (Partai Keadilan Sosial) ini mengungkapkan, traktirannya itu bukanlah politik uang atau sogokan, melainkan bukti pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Budaya politik uang sepertinya sudah mempengaruhi sebagian masyarakat menjelang Pilkada Jakarta tanggal 11 Juli mendatang, berbagai cara dilakukan untuk meraih simpati dan suara warga.
Salah satunya dengan membagi-bagikan uang, akibatnya, banyak warga yang sudah terbiasa bahkan ketagihan dengan hal tersebut.
Setidaknya, hal tersebut dijumpai oleh Hidayat Nur Wahid, Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 4 saat mengunjungi pasar kaget, Koja Jakarta Utara. Disana, beberapa kali warga bertanya, "Duitnya mana?"
Menanggapi hal tersebut, Hidayat hanya tersenyum dan mengatakan, "Maaf Bu, kita tidak menggunakan politik uang".
"Pasar ini merupakan identitas. Kami akan terus berpihak pada para pedagang ini. Orientasi kami tidak akan menggusur pasar-pasar seperti ini, tapi nanti akan kami ajak kerja sama agar tidak kumuh," kata Hidayat kepada wartawan di Pasar Kaget Jalan Plumpang Semper, Jakarta Utara, Rabu.
Menurut dia, solusi untuk menata Jakarta tidak harus dengan menggusur pasar tradisional yang dianggap kumuh. Ia berjanji akan mengajak para pedagang untuk bekerja sama menata pasar.
"Solusinya adalah mengajak mereka di sini para pedagang, tokoh masyarakat, mengajak duduk bareng, bagaimana agar pasar ini tetap berjalan dengan bersih dan tidak kumuh," ujarnya pada hari ketiga kampanye Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada 11 Juli 2012.
Hidayat juga mengatakan akan mengevaluasi keberadaan minimarket dan supermarket yang disinyalir membunuh kehidupan pasar tradisional. Menurutnya, aturan mengenai keberadaan minimarket di Jakarta sudah baik, namun masih kurang dalam penegakan aturannya.
Menanggapi hal tersebut, Hidayat mengatakan bahwa memang harus ada regulasi untuk hal itu. Ia menjelaskan, sebenarnya hal demikian adalah wewenang menteri perdagangan. Namun demikian, menurut mantan Ketua MPR itu, bukan berarti gubernur tak berperan.
"Seorang gubernur hendaknya mengomunikasikan dengan pihak terkait untuk kepentingan rakyat juga", ujarnya.
Dengan mengusung semboyan "Ayo Beresin Jakarta" Hidayat menyambangi Pasar Sindang di Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Pada kesempatan itu, Hidayat tidak hanya berbaur dan bercerita serta mendengarkan keluhan warga pasar, dan membeli jamu dan gorengan.
Hidayat menyampaikan, ada dua pihak yang diuntungkan dengan traktiran itu, yakni pedagang serta mereka yang kebagian traktiran.
Mantan Presiden PKS (Partai Keadilan Sosial) ini mengungkapkan, traktirannya itu bukanlah politik uang atau sogokan, melainkan bukti pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Budaya politik uang sepertinya sudah mempengaruhi sebagian masyarakat menjelang Pilkada Jakarta tanggal 11 Juli mendatang, berbagai cara dilakukan untuk meraih simpati dan suara warga.
Salah satunya dengan membagi-bagikan uang, akibatnya, banyak warga yang sudah terbiasa bahkan ketagihan dengan hal tersebut.
Setidaknya, hal tersebut dijumpai oleh Hidayat Nur Wahid, Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 4 saat mengunjungi pasar kaget, Koja Jakarta Utara. Disana, beberapa kali warga bertanya, "Duitnya mana?"
Menanggapi hal tersebut, Hidayat hanya tersenyum dan mengatakan, "Maaf Bu, kita tidak menggunakan politik uang".

Comments
Post a Comment