Partai Mitos: Dulu Demokrat, Kini Gerindra dan Nasdem?

PEMILU 2014 sepertinya akan menjadi dejavu pemilu 2004 dan 2009. Dalam dua pemilu terakhir, PartaiDemokrat (PD) tampil secara mengejutkan dengan perolehan suara tak terduga. Setelah mendapat sekitar 7% dalam pemilu 2004, PD akhirnya menjadi kampiun pada pemilu 2009, mengalahkan partai-partai mapan seperti PDIP dan Partai Golkar.

Kini, menjelang pemilu 2014, PD seakan sedang terjun bebas. Berbagai kasus korupsi yang melilit kader-kader terbaiknya membuat publik tak lagi meletakkan harapan pada PD. Hasil berbagai lembaga survey menunjukkan perolehan suara PD terus merosot. Keberadaan PD bahkan terancam oleh dua partai baru: Gerindra dan Nasdem.

"Gerindra dan Nasdem menjadi kuda hitam. Kedua partai ini didukung tokoh. Gerindra oleh Prabowo sedang Nasdem melalui media yakni Surya Paloh," kata Direktur Eksekutif Charta Politika, YunartoWijaya, dalam pemaparan hasil survei di Restoran Pantai Mutiara, Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, (30/8/2012).

Survei Charta Politika cukup mengejutkan untuk level partai kelas menengah. Bila 3 besar didominasi Golkar, Partai Demokrat (PD) dan PDIP, maka level menengah terjadi persaingan ketat. Bila pemilu digelar saat itu, Gerindra dan Nasdem unggul mengalahkan PKS dan PAN.

Hasil serupa juga diperoleh Lembaga Survei Indonesia (LSI). Partai Nasdem, ternyata cukup mendapat perhatian publik. Partai ini mendapat dukungan  5,9 persen responden. Mereka ada di urutan keempat. Bandingkan dengan perolehan Demokrat dan PKS saat mereka baru lahir pada Pemilu 2004 silam. Saat itu Demokrat hanya meraih 3 persen suara dan PKS 4 persen suara.

Hasil survey tersebut menjadi indikasi awal bahwa dejavu tampaknya akan kembali terjadi dalam pemilu tahun depan. Jejak PD bisa jadi akan diikuti oleh Gerindra dan Nasdem. Sebagai partai baru, publik begitu berharap dengan kedua partai tersebut. Berharap kedua partai itu tak korupsi. Berharap keduanya tak seperti partai lainnya. Berharap keduanya tak buruk. Berharap keduanya mampu menghadirkan perubahan. Dan seterusnya. Deretan panjang harapan itulah yang dulu juga diletakkan di pundak PD dan SBY.

Namun, apa hendak dikata. Seiring perjalanan waktu, PD dan SBY ternyata tak mampu menjawab harapan-harapan tersebut. Satu per satu borok PD terkuak. PD yang gencar mengiklankan diri sebagai partai anti korupsi justru menjadi partai yang kadernya banyak korupsi.

Mitos. Begitulah saya mengistilahkan fenomena ini. Mitos adalah sesuatu yang belum tentu benar tapi telah telanjur dianggap kebenaran oleh masyarakat. Dan media memiliki peran luar biasa besar dalam melakukan mitosisasi tersebut.

Media dengan semangat mencitrakan bahwa PD (dan SBY) adalah partai dan sosok yang mampu membawa perubahan. Pencitraan ini belum tentu benar namun karena setiap hari media massa memborbardir publik dengan berita positif PD dan SBY, maka masyarakat akhirnya terpengaruh dan terbentuk opininya.

Publik baru tersadar jika PD selama ini hanyalah mitos ketika melihat kinerjanya. Ternyata, PD tak seluarbiasa yang diberitakan. Ternyata PD tak segemerlap yang diinformasikan. Ternyata PD tak sebaik yang dikatakan media. Dan akhirnya, setelah mitos itu tak terbukti, publik ramai-ramai menghujatnya tak terkecuali media massa yang ironisnya justru menjadi pihak yang paling gencar.

Mitosisasi sangat berbahaya karena subjektif, tak ada ruang untuk bersikap kritis dan terkesan memaksa publik untuk memilih orang sesuai dengan selera media. Dan dalam batas-batas tertentu, mitos tersebut sepertinya akan menghinggapi Gerindra dan Nasdem. Keduanya boleh jadi akan menjadi partai mitos layaknya PD di pemilu sebelumnya.

Dalam konteks individu, mitos juga terjadi pada diri Jokowi. Jokowi sekarang menjadi SBY baru. Jokowi menjadi media darling. Apapun tentang Jokowi diberitakan positif oleh seluruh media. Jokowi mendadak menjadi ikon perubahan yang dicitrakan mampu menyelesaikan persoalan di Jakarta.Gaya kepemimpinanya di Solo sebagai walikota terus diberitakan dan dianggap mampu ditransfer untuk menuntaskan masalah pelik di Jakarta.

Mitos dapat tumbuh subur di tengah masyarakat yang mudah terpesona terhadap sesuatu yang baru dan tak hobi mengunyah setiap berita yang disajikan media massa. Dan hari ini, dua hal tersebut masih dimiliki oleh kebanyakan masyarakat di Tanah Air. Semoga kita tak termasuk orang yang mudah dipengaruhi mitos dan memilih partai atau sosok yang telah terbukti.

Comments