Ada hal yang mengusik pikiran saya, saat
membaca berita tentang beberapa saudara kita, yang dulu berada dalam satu
kafilah dakwah. Kini lebih memilih untuk mundur dari barisan dan membentuk
kafilah dakwah sendiri.
Jujur, saya tidak bermaksud mendeskriditkan
pilihan saudara-saudara kita tersebut. Juga tidak sedang dalam posisi menilai
dan menghakimi pendirian mereka. Karena saya menyadari, bahwa Allah pun
memberikan kebebasan pada tiap makhlukNya untuk menentukan pilihan tanpa paksaan.
Sebagaimana termaktub di sebuah ayat dalam alma’tsurat
yang rutin kita baca,bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Begitupun juga, tidak ada
paksaan bagi mereka yang dulunya berjuang bersama bahu membahu dalam kafilah
dakwah ini, untuk kemudian memilih keluar dari barisan.
Secara pribadi saya menghormati pilihan
mereka, dan tetap berdoa untuk kebaikan kita semua. Karena bagaimanapun, tidak
ada kata mantan saudara dalam ukhuwah. Dan bukankah ikatan yang didasarkan pada agama
lebih kental daripada hubungan sedarah.
Tapi, ijinkan saya menguraikan renungan saya
secara pribadi terkait dengan hal tersebut. “Jika”, adalah kata yang saya
gunakan disini.
Sebagai orang awam, dan kader baru dalam
kafilah dakwah ini, saya mencoba berandai. Tentu bolehkan berandai? Seperti
kita mengandaikan diri pada posisi orang lain yang tertimpa kesusahan, agar
hati kita bisa ikut merasakan kesedihan mereka, lalu menjadi empati.
Andaikata saya menjadi salah satu dari
mereka. yang memilih keluar dari barisan ini karena sebuah atau beberapa alasan
yang saya nilai cukup prinsipil.
Bisa jadi karena saya mulai “sesak’ berada dalam barisan dakwah, yang
terasa mulai melenceng dari tujuan awalnya. Atau mungkin saya mulai antipati
dan tidak suka dengan perilaku beberapa qiyadah,
yang saya rasa tidak lagi mencerminkan sikap dan tauladan layaknya seorang qiyadah.
Mungkin juga karena saya menilai afiliasi
kafilah dakwah ini bukan lagi berorientasi pada kemaslahatan umat dan ukhrowi,
tapi lebih cenderung pada kepentingan golongan (segelintir elit pimpinan) dan
bersifat pragmatis, atau bahkan terkesan oportunis.
Apapun alasannya, intinya saya sudah kadung
kecewa dengan kafilah dakwah ini dan merasa hopeless.
Jadi keputusan saya, lebih baik keluar dari barisan dan memilih untuk
berjuang dengan rekan yang memiliki perasaan dan penilaian sama, lalu coba
merintis kafilah dakwah yang baru. Toh, saya tidak bermaksud menjadi sufi atau uzlah. Saya masih tetap ingin berjuang
menegakkan Kalimatul Haq dimuka bumi
ini. Hanya saja dengan berbeda kafilah dakwah, itu saja.
Setelah saya endapkan ide tersebut. Terlintas dalam hati, Wah alasan-alasan itu bisa dibenarkan juga, dan cukup rasional .
Namun, belum lagi saya bernafas lega dengan
temuan tersebut. Hati saya kembali terusik oleh sebuah lintasan pemikiran baru.
Oke,
katakanlah sekarang saya berada dalam kafilah dakwah yang baru. Dimana ruh
perjuangan yang menjadi jargon kafilah dakwah ini, adalah mencoba meng-inisiasi
kembali ke metode awal perjuangan, yakni
tarbiyah- oriented. Bahwa cukuplah
segala sesuatunya dengan tarbiyah. Mari tampikkan dulu segala bentuk tawaran
dunia, yang ternyata sedikit “meyesatkan” langkah para pejuang dakwah. Juga
menolak berpartisipasi dalam kekuasaan, politik, dan kroninya yang selama ini
terasa belum bersinergis dengan perjuangan. Bahkan telah memicu disorientasi
dalam perjuangan.
Tapi, kemudian muncul pertanyaan dalam benak
saya. Apakah semua cukup dengan tarbiyah saja. Lalu bagaimana dengan impian
besar yang saya miliki, sejak saya mulai memahami hakikat diri saya sebagai
seorang muslim. Sebagai makhluk Allah dan sebagai umat Muhammad, ada kewajiban
yang harus saya tunaikan sebelum maut keburu menjemput. Apakah semua itu akan tercapai hanya dengan
tarbiyah dan menutup “pintu” yang lainnya? Apakah saya bisa mewujudkan impian
saya, kembali melihat umat ini berjaya seperti dijaman Rasulullah dan sahabat?
Betapa hati saya tersedu haru tiap kali
terlintas bayangan, andai seluruh penduduk bumi sudah menundukan hatinya dalam
naungan cahaya Ilahi. Sungguhlah, dunia ini akan menjadi tempat yang paling
damai dan indah.
Apakah sang guru mampu menjawab, bila suatu
ketika saya bertanya dalam forum tarbiyah pekanan yang menyejukan kalbu
tersebut. Bagaimana cara kita mewujudkan cita-cita mulia itu agar dapat
terwujud paling tidak bermula dinegeri yang kita cintai ini?Apakah cukup dengan
hanya mengandalkan kesolihan diri, dan menanti takdir membuka pintu bagi kami
untuk mengambil alih tampuk kekuasaan tirani? Apakah kita harus mengulang lagi
semua tahapan perjuangan dari titik nol, berjalan mundur padahal kita sudah
pernah melaluinya?
Apakah kita yang berada dalam kafilah dawah
baru ini, harus menutup mata dan telinga, serta terus menahan diri dari
kenyataan yang tersuguh dihadapan kita.
Padahal “pintu” takdir yang kita tunggu telah
terbuka. Padahal masih ada sekelompok saudara kita yang masih gigih bertahan di
garda depan. Terus memperjuangkan keyakinannya, meski untuk itu mereka harus
berkorban mahal.
Mereka tak pernah surut semangat ditengah
keterbatasan yang membekap. Mereka yang tak pernah kehilangan keyakinan walau
badai fitnah menyerang. Mereka tak pernah berhenti tebarkan kebaikan walau tak
pernah dipuji dan disorot. Mereka yang lapang dada dengan segala bentuk cemoohan
serta tudingan salah, walau mereka tidak melakukannya. Mereka yang tak pernah
memandang nila setitik sebagai alat pengrusak bagi susu sebelanga. Mereka yang
tetap istiqomah dalam kesabaran.
Kembali pada diri saya, apakah hati nurani
saya akan tetap merasa damai dengan pilihan saya, sementara masih ada saudara-
saudara saya yang terus berjuang dengan keringat dan airmata mereka, semata
demi kejayaan umat, sama seperti impian saya. Lalu dimanakah adagium yang
menyatakan umat islam itu ibarat satu tubuh.
Bila berkaca dari keikhlasan mereka, tidakkah
saya terlalu egois dengan pilihan saya?
Bukankah sejak dahulu Baginda Rasul telah
berwasiat, agar umat islam jangan terpecah belah. Bukankah Allah sudah
mengingatkan umat muslim tentang kehebatan tipu daya setan dan musuh-musuh islam.
Ingatlah dengan perkataan bijak sayidina Ali
Ra, bahwa keruh bersama jemaah itu masih jauh lebih baik, daripada uzlah. Bahwa kebaikan yang tak
teroganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang teroganisir. Bila musuh-musuh islam telah bersatu padu dan
menggunakan segala cara untuk memisah-misahkan serta menghancurkan umat islam.
Lalu mengapa kita malah memilih bercerai-berai.
Bila sudah terbuka peluang dan pilihan untuk
mengubah keburukan dengan “tangan”, lalu mengapa kita lebih memilih mengubah
dengan “mulut” atau “hati”. Bukankah, Allah menyukai mukmin yang kuat.
Lalu mengapa kita memilih lemah dan melemahkan barisan kaum mukmin.
Bukankah Allah lebih mencintai mukmin yang
tetap bertahan dan berjuang ditengah kebathilan dan kekufuran. Dibandingkan mereka
(mukmin) yang memilih lari dari arena, hanya karena khawatir kesolehan mereka
akan tercedarai oleh perangai buruk orang-orang hedonis.
Belajarlah dari sejarah umat muslim tempo
dulu. Belajar dari kejayaan dan juga keruntuhan mereka, para pendahulu umat
ini. Semoga kita tidak terjebak pada egoisme dan kenaifan kita secara pribadi.
Agar bangunan islam ini tak porak poranda karena ulah kita.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita pada
kesatuan langkah dan kesamaan tekad. Semoga Allah meneguhkan kita semua dalam
kebenaran dan kebaikan. Dan mengenyahkan segala bentuk keragu-raguan yang
menghambati perjuangan kita. Wallahu a’lam bishawab.
“Ya Tuhan kami, kurniakanlah kesabaran keatas diri kami.
Dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”
(Al-Baqarah:
250)
Comments
Post a Comment