Blusukan ala Sayyidina Umar Ibn Khattab r.a


Beberapa hari ini saya amati bahwa , kata “blusukan” menjadi kata trend terbaru di dunia maya saat ini. Apakah tidak ada seorangpun pemimpin di dunia ini melakukan “blusukan”? Atau hanya Bapak Gubernur DKI Jokowi saja yang baru melakukannya? Apakah blusukan adalah sesuatu hal yang baru ?

Seingat saya kata blusukan memang baru saya dengar baru-baru ini. Lantas saya mencoba mencari arti kata “blusukan” itu di peramban Google saya. Akhirnya saya dapatkan arti blusukan itu. Blusukan berasal dari bahasa Jawa yang artinya keluar masuk ke tempat yang jarang didatangi atau dilewati.

Sebelum saya menulis tulisan ini, seingat saya, sikap keluar masuk ke tempat yang jarang didatangi dan jarang dilewati oleh seorang pemimpin daerah seperti Jokowi pernah dilakukan ribuan tahun yang lalu. Blusukan merupakan cara seorang pemimpin untuk melihat kondisi rakyat sebenarnya untuk mencocokan laporan yang masuk ke telingannya atau ke mejanya.

Ada baiknya saya kutip tulisan dari blog saudara kita http://rakanseusaha.blogspot.com/2011/06/kisah-gadis-pemerah-susu.html. Saya berusaha mencantumkan link nya agar para pembaca kompasianer mengetahuinya langsung dari sumbernya. Karena salah satu etika menyadur adalah mencantum sumbernya.
Sebenarnya kisah ini banyak tersebar di peramban Google kita. Kisah Sayyidina Umar Ibn Khattab r.a dengan Gadis Pemerah Susu.


Blusukan ala Sayyidina Umar Ibn Khattab r.a
“Sudah menjadi kebiasaan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab r.a berkeliling mengontrol keadaan rakyatnya. Beliau biasa berkeliling menyusuri kota Madinah, hingga pada suatu ketika, setelah beliau melaksanakan solat subuh dan keadaan masih gelap gelita beliau berkeliling di pinggiran kota Madinah, akhirnya sampailah beliau di sebuah gubuk kecil. Kemudian terdengar suara seorang wanita dari dalam gubuk tersebut sedang berbicara kepada puterinya: ” Kenapa tidak engkau campurkan saja susu itu dengan air?” ” Kenapa harus aku campurkan air pada susu ini, sedangkan Amirul Mukminin sudah melarangnya? ” Terdengar suara jawapan anak gadisnya. Ibunya menyahut: ” Orang lain juga buat begitu, campurkan saja dengan air, orang lain kan tidak mengetahuinya?”. Namun gadis tadi berkilah: ” Apakah kalau mereka mencampurkan susu dengan air, lalu mereka masuk ke neraka dan kita mengikutinya?”. Meskipun Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, tetapi Tuhan Amirul Mukminin pasti mengetahuinya”

Nama wanita itu adalah Ummu Ashim. Kemudian Ummu Ashim dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, dan lahirlah dari pernikahan itu seorang putera yang diberi nama Umar bin Abdul Aziz”

Seingat saya ada lagi kisah blusukan Amirul mukminin yang lain. Saya kembali mencarinya di peramban saya. Dengan cepat saya temukan link nya http://khalifahalhidayah.blogspot.com/2013/05/kisah-saidina-umar-dengan-fakir-miskin.html.

Gambaran Singkat Karakter Kepemimpinan Sayyidina Umar ibn Kattab r.a

Saya akan melampirkan sumber saya untuk sub bahasan ini http://ibnuqosim.blogspot.com/2010/08/pola-hidup-zuhud.html.

Pemimpin yang benar adalah tidak kenyang perutmya  sebelum rakyatnya kenyang, selalu lapar sebelum rakyatnya lapar, tidak menjatuhkan hukuman karena takut turun jabatan, hukum diberlakukan walau menyentuh pribadi dan koleganya,jujur,berani dan selalu mengedepankan dan memikirkan rakyat. 

Lihat Saidina Umar Ibn Khotob setiap malam berkeliling ke pelosok desa dengan memanggul sendiri gandum di pundaknya guna diberikan kepada rakyatnya karena khawatir tidak bisa tidur karena lapar perutnya. Ketika di tanya pembantunya, kenapa bukan aku saja yang memanggul gandum itu hai tuan, beliau berujar apakah kamu mau menanggung tanggungjawabku di hari kiamat karena aku telah menelantarkan rakyatku? 

Mari kita lihat pula bagaimana Rasulallah SAW. sebagai seorang pemimpin besar, panglima perang, kepala pemerintahan bahkan pemimpin  dunia- akhirat, hidup sangat sederhana , di rumah Beliau cuma terdapat selembar tikar dan makanan yang sangat sederhana, bahkan terkadang roti yang sudah kering, sehingga Beliau sering kali berpuasa atau mengganjal perutnya karena rasa lapar karena tidak ada makanan yang dapat dimakan. Rumahnya berhampar pasir dan pelepah korma. Padahal jika beliau menginginkan hidup mewah dan berkecukupan sudah pasti bisa, doanya tidak pernah di tolak Allah SWT. tetapi hal itu tidak dilakukan, karena begitu besar tanggungjawabnya terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Ternyata blusukan adalah ronda keliling kampung dalam arti harfiah. Metode blusukan telah dilakukan beribu tahun yang lalu dan bukan suatu hal yang baru. Istilah kerennya Monitoring dan Evaluasi. Jika Sayyidina Umar r.a melakukan blusukan tanpa ditemani oleh seorang pengawal pun bahkan anaknya, lantas kenapa blusukan kali ini justru membawa pewarta berita atau salah satu stasiun TV lengkap dengan kamera liputannya? BLUSUKAN PASTINYA BERSIFAT RAHASIA, BAHKAN AMAT SANGAT RAHASIA. Hanya pelaku blusukan dan Tuhan yang tahu, niatan, langkah dan isi kepala pelaku blusukan tadi. Alasan sederhananya adalah menjaga KEIKHLASAN. Selevel Sayyidina Umar r.a saja masih melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Semoga blusukan para pemimpin kita IKHLAS adanya.

Oleh : Ardi Wahab
Kompasiana


Comments

Post a Comment