Hj. Emma Ruchaemah (FPKS DPRD Jakarta) : Dakwah Tak Kenal Pensiun

emma 

Usianya sudah berkepala enam. Tepatnya 69 tahun (10/06/2013). Namun, tenaga wanita ini masih tampak segar dan enerjik. Sosoknya sudah sedemikian akrab di mata warga Kelurahan Bidara Cina, Cawang Atas, Jakarta Timur.

Lebih 40 tahun tinggal di Cawang, Hj. Emma Ruchaemah yang akrab dikenal dengan sebutan Ibu Emma, membuatnya tak asing lagi bagi warga sekitarnya. Sosoknya dikenal sebagai guru, baik secara formal maupun nonformal. Ia aktif  mengajar sebagai guru Agama di SD,SMP, SMA di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, ia juga membina TPA dan TK. Tak heran, majelis taklim juga ikut terbentuk dan berkembang karenanya.

Pada tahun 1968, kisahnya, sebuah TK di dekat rumahnya bubar karena satu hal. Sebagai pencinta dunia pendidikan, ia tak mau membiarkan murid-murid terlantar. Ibu Emma lalu membeli TK itu (bukan gedungnya namun murid, guru serta perlengkapannya belajar dengan harga 26 gram emas pada waktu itu). Kecintaannya pada dunia anak dan pendidikan ini, menjadikan sekolah ini akhirnya berkembang menjadi tingkat TK dan SD.Taklama, ada fasum (fasilitas umum)yang terbengkelai.Dengan segala usaha Bu Emma berusaha menghidupkannya kembali dengan bantuan dari masyarakat sekitar.Akhirnya berdirilah hingga berkembang jadi tingkat SMP dengan ibu Emma sebagai Kepseknya. 16 tahun lamanya sekolah ini berdiri dan membantu pendidikan bagi masyarakat sekitar. Namun, meledaknya peristiwa Priok pada tahun 1986, ikut berimbas dengan ditutupnya sekolah ini.
“Saya sering bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan, tetapi harus tetap waspada dengan segala kemungkinan. Apalagi dunia politik yang penuh ranjau kenikmatan, bila tak sabar dan hati-hati bisa terjerumus ke dalamnya,” ujar ibu yang kini menjadi anggota Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta ini.

Wanita kelahiran Karawang yang besar di Jakarta, ini sejak belia memang sudah concern pada dunia pendidikan. Usai menyelesaikan studinya di Pendidikan Guru Agama (PGA) di Yogyakarta, 1960, ia aktif mengajar di Ibu Kota. Sambil mendidik murid-murid sekolah dasar ia melanjutkan pendidikannya ke IKIP Muhammadiyah, Jakarta.

Kuliah malamnya  tersebut terhenti gara-gara meletus pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965. Di tahun yang sama, sambil tetap kuliah Ibu Emma harus pulang-pergi Jakarta-Karawang karena mengajar di dua tempat yang berbeda.

Sang suami, H. Abdullah, yang menikahinya tahun 1963, senantiasa setia mendukung dakwah dan perjuangannya. Mantan Kepsek SMP Muhammadiyah, ini pertama kali  bertemu dengannya ketika sama-sama kuliah di IKIP Muhammadiyah. Perkawinan ini membuahkan empat putri dan dua putra,  serta 14 cucu. Sekarang H. Abdullah dipercaya menjadi imam masjid Jami’ Cawang dan pernah menjadi ketua RT dan RW di lingkungannya.

Bagi Ibu Emma, era tahun 80-an  adalah masa penuh cobaan. Ia dimutasikan dari SMAN 14 dan SMP Muhammadiyah ke Depag tanpa alasan yang jelas. Pernah ia menanyakan sebabnya ke salah satu Dirjen di Depag, namun jawabannya, “Ibu kan hanya diperbantukan di sekolah itu. Jika yang dibantu sudah tak mau dibantu, gimana?” tutur Ibu Emma.

Ihwal dirinya ditarik dari sekolah negeri itu, Ibu Emma membeberkan sebab-musababnya. Sejak tahun 1983, katanya, ia sudah dicurigai sekolah karena aktif membina siswa-siswi SMA di luar jam kelas. Waktu itu, ia mengadakan semacam mental training—yang kini dikenal sebagai Rohis. Mentornya sendiri terdiri dari beberapa aktivis kampus seperti dari IPB dan Dewah Dakwah. “Saya mengolahnya berdasarkan training yang pernah saya dapat ketika aktif di PII dulu,” ujarnya.

Gara-gara mendatangkan “orang luar” itu Ibu Emma dipanggil Kodim di daerah Jatinegara. Untungnya, anak kepala intel di Kodim itu adalah siswi binaannya. Ia sadar bahwa anak perempuannya itu perilakunya sehari-hari semakin baik. Sehingga sang intel itu berkata pada Ibu Emma, “Teruskan saja!”

Proses penonaktifannya dari SMA negeri, menurut Ibu Emma, tidak secara sekaligus. Dari kelas 16 kelas yang diajar, satu demi satu dikurangi. Setelah tak ada kelas yang ia ajar, ia ditugaskan menjadi guru piket, hingga mutasi ke Depag itu.

Seminggu tak mengajar di sekolah, Ibu Emma benar-benar “bete”. Ia tak biasa berteman 
dengan mesin ketik di kantor. Ia akhirnya memutuskan mengajar di SMA PB Sudirman, Cijantung, Jakarta Timur. Sejumlah binaannya di SMA 14 dulu menjadi mentor di SMA Sudirman. Dakwah sekolah pun cukup berkibar di sana. Ibu Emma mendidik mereka selama 16 tahun. Dua tahun lalu ia pensiun dari sekolah ini.

Meski dinyatakan pensiun, Ibu Emma tak mau berdiam diri dari aktivitas mengajar. Ia begitu cinta pada dunia pendidikan. Karena itu, ia kembali mengajar di SMA KAPIN di Kalimalang, Jakarta Timur.

Selain tak kenal lelah berdakwah di sekolah, ibu yang murah senyum ini juga haus menimba ilmu. Buktinya, usai menyelesaikan kuliah di LIPIA tahun 1992, ia menimba ilmu lagi di Dirosat Islamiyyah Al-Hikmah, Jakarta Selatan. “Sekarang sudah tahun terakhir, tapi saya belum selesai,” katanya sambil tersenyum. Meski kini mulai aktif sebagai anggota DPRD DKI Jakarta, ibu yang masih tetap semangat berdakwah ini tercatat sebagai Ketua Yayasan Ibu Bahagia dan Ketua Yayasan Ar-Rohman. Sebulan sekali ia masih menyempatkan diri mengisi pengajian di sekitar tempat tinggalnya, majelis taklim, maupun di sejumlah perkantoran.

Kini, keenam anaknya telah menikah semua. Iin Suprihatin, Dwi Rahma B.F, Mairini Kamaliah, Dede Amru Marwan, Terry Rahmaniah, Zakky Chandra dan kedua anaknya yang telah lebih dulu mendahuluinya ke surga. Dikelilingi ke-14 orang cucu, Ibu yang juga nenek ini menceritakan kiatnya tentang hidup sehat. “Early to bed, early to rise makes man healthy, wealthy and wise. Satu hal lagi, disiplin dalam segala kegiatan dan buatlah semuanya seimbang,” ungkap Ibu Emma tentang kiat menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.

Dengan kesehatan yang prima Ibu Emma berharap dapat mengemban amanat dakwah hingga akhir hayat. (I.S.Agustin/saksi)

Comments