Saatnya Semua Kader BANGKIT dan Merapatkan BARISAN



Saat ini kita sedang berada dalam cuaca yang tidak menguntungkan, terjangan ombak dan badai silih berganti menghadang dakwah ini. Dengan kondisi seperti ini, Selayaknya semua yang berpredikat kader memberikan pengabdian yang terbaik untuk dakwah ini.

Dalam pemenangan kedepan, dibutuhkan kenaikan 20% angka elektabilitas dalam kurun waktu 70 hari tersisa. Memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesadaran dan semangat oleh semua pihak, belajar dari jiwa-jiwa yang siap berkorban dan kisah heroik para sahabat ketika memenangkan dakwah. Tidak ada lagi hari untuk beristirahat sejenak. Tetapi hari-hari yang akan dilewati kedepannya dijadikan sebagai hari-hari peningkatan elektabilitas kader. Tidak cukup hanya Sabtu-Ahad, tetapi setiap hari. Artinya semua kader bekerja secara all out dan tidak setengah-setengah.

Jika seandainya kita menelisik lebih dalam apakah kita termasuk dalam kelompok pertama yaitu “kader kebanyakan”, yang selalu bersiap siaga di posisinya, atau yang selalu haus untuk beramal, serta yang berusaha menyempurnakan seruan taklimat dari qiyadah. Itulah kader responsif dan produktif. Dalam kondisi tersebut asupan taujih sangat dibutuhkan. Tetapi kader mandiri seharusnya tidak bergantung pada taujih. Kader mandiri itu istiqomah dan bahkan senantiasa memberikan taujih kepada orang lain. Atau kita dalam kelompok kedua yang “hanya sedikit kader”, kelompok yang sering tertinggal dalam arus harokah dakwah ini. Tertinggal informasi, tertinggal dalam Gesit, tertinggal dalam mabit, tertinggal dalam amal-amal lain. Semua pilihan ada di tangan kita. Tetapi untuk menciptakan kemenangan dakwah dibutuhkan kelompok pertama. Dakwah membutuhkan kader tulen, kader militan, bukan kader yang rentan dan rapuh.

Melihat kondisi ikhwah dibeberapa daerah yang sedang berjibaku siang malam, berendam dalam air dingin dan berlumpur, berbasah kuyup diguyur hujan, lapar, hampir-hampir kondisi tersebut tidak terasa bagi mereka. Menyelamatkan nyawa manusia, mengantarkan makanan dan selimut, membuka dapur umum, membantu masyarakat yang lapar dan kedinginan, dari bayi hingga kakek nenek.

Kas DPD terkuras habis. Kas halaqoh diserahkan sepenuhnya. Bahkan beberapa ikhwah merelakan barang dan tabungannya. Mereka seperti sudah lupa waktu, seperti manusia yang tidak kenal kata lelah. Jika diinstruksikan untuk istirahat sejenak, berganti dengan ikhwah lain, mereka keheranan, dan balik bertanya, “Apa tenaga ana sudah tidak dibutuhkan lagi?” Menakjubkan. Mereka tetap setia dalam perjuangan ini. Sekarang, seberapa setia kita untuk dakwah ini. Setia itu, bukan hanya tentang daya tahan, dan bukan sekedar daya juang, tetapi setia itu adalah memberikan kinerja yang terbaik, the best performance.

Saat ini kita sedang menghadapi tantangan besar. Salah satunya persepsi masyarakat yang kurang bersahabat. Sementara, waktu untuk memilih semakin dekat. Kader memang harus keluar, menyapa masyarakat, dan memulai dari yang mudah. Bahkan pengalaman banyak ikhwah, GESIT itu menyenangkan, karena saat ini masyarakat menunggu sapaan. Senang mereka jika didatangi. Ada atau tidak ada amunisi, ada atau tidak ada LT3 besar, ada atau tidak ada murabbi yang mengingatkan, Gerakan Silaturahim (GESIT) sebaiknya tetap dilakukan. GESIT adalah kampanye. GESIT adalah dakwah. GESIT itu salah satu kiat membuat masyarakat terpesona dengan PKS.

Semoga Allah SWT membalas dan mengganti seluruh pengorbanan dengan balasan yang jauh lebih baik, karena keikhlasan kita semua. (Ro)

Comments

Post a Comment