![]() |
| Picture taken here |
PKSDEPOK, DEPOK - Waktu tengah beranjak di sepertiga malam. Hujan rintik jatuh
ke bumi diiringi suara katak bersahutan. Dingin. Angin berembus menjelajah sela
dedaunan. Saat itu, ketika kebanyakan manusia terlelap dibalik kehangatan
selimut, dua orang manusia terlihat sibuk menyusuri sepanjang jalan, menapaki
gang demi gang. Menerobos hujan. Hanya bermodalkan sepeda motor butut.
Senyap keduanya bergerak penuh kehati-hatian.
Gerakan-gerakan cepatnya menandakan keberadaan mereka tak ingin diketahui orang
lain. Namun sangat disayangkan, sepasang mata
Ustadz Narlis ternyata berhasil mengawasi gerak-gerik
mereka. Sang Ustadz pun perlahan mendekat.
"Siapa itu?" tanya Ustadz Narlis. Kedua
orang itu terperanjat kaget.
"Afwan (maaf-red),
ini ana, Ustadz. Satu lagi putra ana,"
sosok yang lebih besar menjawab tergagap.
Ustadz Narlis tak kalah terkejut. Temaram lampu dan rintik
hujan ternyata mengaburkan pandangan beliau dari sosok yang sejatinya telah ia
kenali.
"Subhanallah…antum sedang apa hujan-hujanan
seperti ini?," tanya Ustadz.
"Ana…afwan, Ustadz. Ana sedang
memasang stiker milik caleg-caleg PKS. Ana ingin turut membantu kemenangan
dakwah ini, Ustadz,” tuturnya.
"Lho bukannya
antum caleg juga?"
"Betul
sekali, Ustadz. Ana caleg. Tapi demi Allah, ana tak memiliki dana untuk membuat
stiker, baliho dan atribut lainnya. Untuk biaya hidup saja kesulitan…," sesaat lelaki ini menghela nafas dalam.
"Ana mohon
izin, Ustadz. Biarlah ana menjadi tim sukses bagi saudara-saudara ana yang
lainnya. Ana ikhlas demi dakwah ini, Ustadz,"
tulus lelaki ini berujar.
Hujan, dingin, angin. Ketiganya belum jua berhenti. Kalimat
demi kalimat sang lelaki menghunjam kesadaran Ustadz Narlis. Membawa beliau
menelusuri kiprah dalam pengabdiannya kepada dakwah ini. Namun Ustadz Narlis
sadar, nun jauh di lubuk hati beliau mengakui, lelaki di hadapannya adalah
orang yang penuh ikhlas dan berjuang karena Allah Swt semata.
"Demi Allah,
mulai malam ini, antum adalah murabbi ana,"
Ustadz Narlis tak kuasa menahan tangis. Beliau memeluk erat lelaki di
hadapannnya. "Antum telah mengajarkan ana
tentang keikhlasan yang luar biasa,"
sang Ustadz melanjutkan. Keduanya berpelukan dalam jalin persaudaraan. Erat.
Hangat. Saling menumpahkan air mata.
Ustadz Narlis begitu terenyuh. Yang ia kenal, lelaki di
hadapannya begitu bersahaja. Tak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada
ikhwah lainnya. Hingga saat ia diamanahkan untuk menjadi calon anggota dewan
pun, tak tampak raut gusar di wajahnya. Namun apa yang dilakukannya malam itu
begitu luar biasa. Ia membantu memasang stiker dan atribut milik caleg-caleg
dari PKS lainnya. Ia mampu menepis segala keserakahan akan jabatan dan lebih
mengutamakan kemenangan perjuangan dakwah yang diretas Partai Keadilan
Sejahtera.
"Ana mohon,
jangan sebutkan nama ana kepada siapapun, ustadz. Biarlah hanya Ustadz dan
Allah Swt yang tahu apa yang kami lakukan untuk dakwah ini," sang lelaki berpesan.
"Ana berjanji
tidak menyebut nama antum. Namun ana akan mengisahkan pertemuan kita ini sebagai
pembelajaran bagi ana dan seluruh ikhwah kita," demikian Ustadz Narlis menjawab.
Sejenak kemudian sang lelaki dan anaknya pergi. Meneruskan
apa yang mereka kerjakan. Perlahan, sosok keduanya menghilang dalam gelap
malam. Suara sepeda motornya lapat. Menghilang. Jauh. Dalam. Membawa segenap
cita-cita kemenangan dakwah.
Dan Sang Ustadz tak henti meneteskan air mata. Untuk sebuah
pelajaran berharga. Tentang keikhlasan, perjuangan, dan pengejawantahan
nilai-nilai tarbiyah yang tak terkirakan di hadapannya. Tentang seorang caleg
yang ikhlas membantu caleg lainnya dalam kesenyapan. Tentang sosok pejuang.
Tentang sosok pahlawan yang bekerja dalam diam.
Pun tentang sebuah janji, untuk sebuah nama. Yang harus
dijaga dalam hati. Hingga nanti di penghujung waktu. Hingga nanti, saat bersua
di Jannah-Nya. Semoga. (Un/ccm)

Allahu Akbar... maafkan hamba
ReplyDelete