Ramadan di Negeri Tirai Bambu, Lain di Tianjin Lain di Xinjiang

 
Masjid Tianjin

Jakarta - Membicarakan permasalahan yang terjadi pada pelarangan-pelarangan berpuasa secara represif di Xinjiang memang tidak pernah ada habisnya, tahun ini bukan kali pertama, tetapi sudah berlangsung cukup lama. Hal ini disebabkan oleh beragam alasan yang dicari-cari oleh pemerintah setempat maupun Pusat (Beijing) untuk melarang warganya berpuasa.

Seperti yang ditulis oleh sejumlah media, salah satu alasannya adalah agar kesehatan karyawan pemerintah (PNS) setempat tidak terganggu kinerjanya. Tak ayal, berpuasa di Tiongkok lama waktu berpuasa adalah sekitar 17 jam, merupakan waktu yang cukup lama untuk menahan lapar dan dahaga.

Santernya berita dari tahun ke tahun mengenai larangan berpuasa yang diterapkan oleh pemerintah lokal provinsi Xinjiang, Tiongkok, mendorong saya untuk memberikan perspektif lain soal apa yang secara aktual terjadi dan hubungannya dengan aktivitas saya selama berada di Tiongkok. Tidak semua muslim yang tinggal di Tiongkok mendapatkan perlakuan tak baik soal kebebasan menjalankan keyakinannya. Seperti yang saya alami di Tianjin.

Saya merupakan mahasiswa S2 jurusan Bisnis Internasional di University of International Business and Economics, Beijing, Tiongkok. Saat ini saya sudah melewati tahun pertama perkuliahan, yang berarti masih ada efektif 1 tahun lagi masa tempuh studi S2 saya.

Saya sebenarnya sudah menempuh perkuliahan di Tiongkok sejak tahun 2011, dimana 2 tahun pertama saya menempuh studi yang setara Diploma 2 untuk program Bahasa Mandarin di Universitas Peking, Beijing. Alhamdulillah seluruh biaya dan tanggungan akomodasi tinggal selama saya menjalani perkuliahan tercakup dalam beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Tiongkok (China Scholarship Council).

Banyak kisah yang saya alami selama menjalani perkuliahan dan kehidupan di Tiongkok, terutama kisah kehidupan sebagai muslim ketika bulan Ramadan tiba.

Sekilas tentang lokasi tempat saya melakukan magang sekarang, perusahaan ini bernama PT Tianjin Hoidi Offshore Engineering yang berlokasi di Tianjin. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang tidak terlalu besar namun spesifik memproduksi produk yang berkaitan dengan jackup pertambangan minyak lepas pantai. Sudah satu bulan saya menjalani magang di perusahaan ini, yang artinya masih ada sekitar 27 hari lagi sebelum saya selesai program magang saya.

Tianjin merupakan kota yang tidak terlalu jauh dari Beijing, bahkan dengan kereta cepat ‘Gaotie’ nya Tiongkok, waktu tempuh dari Beijing ke Tianjin hanya setengah jam, dan Beijing menunju Distrik Tanggu tempat lokasi saya magang yang berjarak sekitar 200 kilometer bisa ditempuh dalam tempo 60 menit.

Dalam kesempatan magang di perusahan ini, saya dipercaya untuk membantu bagian Asisten Bisnis yang satu ruangan terdiri dari satu orang manager, dan satu orang staf. Selama magang di perusahaan ini, banyak pengalaman-pengalaman yang belum pernah saya alami langsung. Terutama masalah yang terkait dengan keberadaan saya di tengah-tengah para karyawan dan staf non muslim.

Hal menarik yang saya temui adalah, semenjak manager saya mengetahui bahwa saya adalah seorang muslim, justru beliau yang “berlarian” menanyakan ini-itu seputar makan, tempat shalat, dan bahkan kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin saya butuhkan soal ritual keislaman saya. Jujur kala itu saya sangat terenyuh. Saya pikir mereka merupakan orang-orang yang kaku dan tidak terlalu menerima agama luar berada di tengah-tengah mereka. Hal ini saya rasakan juga karena di Tiongkok, penganut agama pada umumnya tidak diperkenankan untuk melakukan penyebaran hal-hal yang berhubungan dengan agama secara bebas.

Saya bisa memahami bahwa manager saya merasa peduli, karena ia berinteraksi dengan banyak orang asing ketika di bangku kuliah dulu, tingkat pendidikan beliau yang sudah menempuh doktor, dan beliau mengakui bahwa beliau beragama Budha, jadi lebih berpikiran terbuka. Untuk rekan kerja saya, dia tidak memiliki preferensi apapun soal agama, dan tidak merasa terusik soal keberadaan saya. Aktivitas perkantoran dijalani dengan biasa, dengan campuran penggunaan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris saya mencoba untuk maksimal dalam bekerja.

Sebelum Ramadan tiba, kami biasa bersantap siang di kantin yang tersedia di perusahaan. Hal yang membuat saya cukup terenyuh adalah, penjaga kantin sudah diberikan instruksi sebelumnya bahwa makanan yang diberikan untuk saya harap dipisahkan. Hal ini lantas membuat saya kaget dan saya mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada manager saya itu. Kebanyakan menu yang disediakan khusus untuk saya adalah menu sayur-mayur, telur, dan ikan, tentu saja tanpa memasukkan minyak babi ke dalam masakan tersebut kata manager saya.

Terkait dengan salat, saya lantas bilang ke manager saya bahwa saya butuh salat setiap jeda makan siang untuk Zuhur dan jeda sore untuk Ashar. Sejurus manager saya menyanggupi permintaan saya dan mencarikan ruangan kosong untuk saya salat. Sikap penghargaan dari warga lokal Tiongkok di lingkungan mengenai perbedaan kepercayaan dan ritual merupakan pengalaman pertama saya. Singkat kata, saya cukup terharu mengenai pengertian yang diberikan di lingkungan tempat saya magang dan tidak terlalu mencampuri urusan kepercayaan pribadi saya.

Sekilas tentang lokasi tempat saya melakukan magang sekarang, perusahaan ini bernama PT Tianjin Hoidi Offshore Engineering yang berlokasi di Tianjin. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang tidak terlalu besar namun spesifik memproduksi produk yang berkaitan dengan jackup pertambangan minyak lepas pantai. Sudah satu bulan saya menjalani magang di perusahaan ini, yang artinya masih ada sekitar 27 hari lagi sebelum saya selesai program magang saya.

Tianjin merupakan kota yang tidak terlalu jauh dari Beijing, bahkan dengan kereta cepat ‘Gaotie’ nya Tiongkok, waktu tempuh dari Beijing ke Tianjin hanya setengah jam, dan Beijing menunju Distrik Tanggu tempat lokasi saya magang yang berjarak sekitar 200 kilometer bisa ditempuh dalam tempo 60 menit.

Dalam kesempatan magang di perusahan ini, saya dipercaya untuk membantu bagian Asisten Bisnis yang satu ruangan terdiri dari satu orang manager, dan satu orang staf. Selama magang di perusahaan ini, banyak pengalaman-pengalaman yang belum pernah saya alami langsung. Terutama masalah yang terkait dengan keberadaan saya di tengah-tengah para karyawan dan staf non muslim.

Hal menarik yang saya temui adalah, semenjak manager saya mengetahui bahwa saya adalah seorang muslim, justru beliau yang “berlarian” menanyakan ini-itu seputar makan, tempat shalat, dan bahkan kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin saya butuhkan soal ritual keislaman saya. Jujur kala itu saya sangat terenyuh. Saya pikir mereka merupakan orang-orang yang kaku dan tidak terlalu menerima agama luar berada di tengah-tengah mereka. Hal ini saya rasakan juga karena di Tiongkok, penganut agama pada umumnya tidak diperkenankan untuk melakukan penyebaran hal-hal yang berhubungan dengan agama secara bebas.

Saya bisa memahami bahwa manager saya merasa peduli, karena ia berinteraksi dengan banyak orang asing ketika di bangku kuliah dulu, tingkat pendidikan beliau yang sudah menempuh doktor, dan beliau mengakui bahwa beliau beragama Budha, jadi lebih berpikiran terbuka. Untuk rekan kerja saya, dia tidak memiliki preferensi apapun soal agama, dan tidak merasa terusik soal keberadaan saya. Aktivitas perkantoran dijalani dengan biasa, dengan campuran penggunaan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris saya mencoba untuk maksimal dalam bekerja.

Sebelum Ramadan tiba, kami biasa bersantap siang di kantin yang tersedia di perusahaan. Hal yang membuat saya cukup terenyuh adalah, penjaga kantin sudah diberikan instruksi sebelumnya bahwa makanan yang diberikan untuk saya harap dipisahkan. Hal ini lantas membuat saya kaget dan saya mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada manager saya itu. Kebanyakan menu yang disediakan khusus untuk saya adalah menu sayur-mayur, telur, dan ikan, tentu saja tanpa memasukkan minyak babi ke dalam masakan tersebut kata manager saya.

Terkait dengan salat, saya lantas bilang ke manager saya bahwa saya butuh salat setiap jeda makan siang untuk Zuhur dan jeda sore untuk Ashar. Sejurus manager saya menyanggupi permintaan saya dan mencarikan ruangan kosong untuk saya salat. Sikap penghargaan dari warga lokal Tiongkok di lingkungan mengenai perbedaan kepercayaan dan ritual merupakan pengalaman pertama saya. Singkat kata, saya cukup terharu mengenai pengertian yang diberikan di lingkungan tempat saya magang dan tidak terlalu mencampuri urusan kepercayaan pribadi saya.


Fathan Asadudin Sembiring
Magang di Tianjin

Comments