Ringkasan Khutbah Jum'at : Kewajiban Muslim Terhadap Rasulullah



PKSDEPOK (31/1) - Berikut adalah catatan ringkasan khutbah shalat Jum'at oleh M Supariyono yang dilaksanakan di Masjid Al Barkah, ITC Depok. Semoga bermanfaat. [CCM]

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Sidang jama’ah yang dirahmati Allah.

Sebagai seorang muslim, setidaknya ada 6 kewajiban kita kepada Nabi SAW :
1) Mengenal beliau. Dengan kenal, ini sangat menentukan untuk memenuhi kewajiban kita yang berikutnya. Jika benar kita dalam mengenal beliau, insyaa Allah kita juga akan benar dalam memenuhi kewajiban-kewajiban selanjutnya terhadap beliau. Ketika keliru kita dalam mengenal beliau, bisa jadi juga kita akan keliru dalam menjalani kewajiban-kewajiban berikutnya.
2) Mencintai Rasulullah.
3) Mengimani Rasulullah.
4) Mengikuti Rasulullah, dan untuk itulah beliau dihadirkan kepada kita semua untuk dijadikan top model kita.
5) Menta’ati Rasulullah.
6) Membela Rasulullah.

Pada kesempataan ini, saya ingin me-refresh kembali untuk kita semua, siapakah sesungguhnya orang yang bernama Muhammad SAW. Adakah beliau ini tuhan atau anak tuhan atau malaikat atau jin? Siapakah sesungguhnya?

Beliau itu luar biasa sekali, sampai-sampai Allaah SWT dan seluruh malaikat-Nya setiap hari bershalawat kepadanya. Siapa sesungguhnya beliau?

Kalau kita membaca Al Qur’an dengan seksama, kita akan medapatkan Allah menyebut beliau dengan beberapa sebutan, pertama yaitu manusia. Bahkan Allaah SWT memerintahkan beliau untuk memberitahu kepada semua manusia bahwa beliau juga manusia seperti kita. Kita dapat temukan informasi itu di penghujung surat Al Kahfi.

Beliau makan sebagaimana kita makan. Beliau tidur sebagaimana kita tidur. Beliau minum sebagaimana kita minum. Beliau terluka sebagaimana kita terluka. Beliau menikah sebagaimana kita menikah. Beliau pun wafat sebagaimana nanti kita semua juga akan wafat. Allah menyebut beliau sebagai manusia sebagaimana kita.

Ini penting diketahui dan dipahami kita semua, pertama, supaya kita tidak mengulangi lagi kesalahan umat sebelum kita dulu yang seringkali mereka menjadikan nabi-nabi mereka, ahli agama mereka, orang shalih mereka menjadi tuhan atau setidaknya menjadi anak tuhan seperti yang terjadi pada umat yang terdekat dengan kita, umat Nabi Isa alaihissalam.

Karena begitu lembutnya perangai Nabi Isa, karena begitu banyaknya Allah SWT berikan mukjizat-Nya kepada Nabi Isa, sehingga mereka lupa bahwa Nabi Isa itu juga adalah manusia. Maka itu tidak boleh terjadi lagi kepada umat Nabi Muhammad, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ingatkan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia juga seperti kita. Kalau tidak diingatkan, bisa bablas kita. Karena jika kita mengenal beliau, kita akan terpesona, akan larut dalam keindahan akhlaq beliau, dan bisa jadi kita dapat lupa bahwa beliau juga manusia seperti kita. Ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, ketika Rasulullah SAW wafat, ada seorang yang tidak terima yaitu Umar bin Khatthab.

Hanya ada satu orang yang berani meluruskan Umar bin Khatthab yaitu Abu Bakar Ashshiddiq ra, “wahai sekalian manusia, siapa diantara kalian yang menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa hari ini Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa diantara kalian yang menyembah Allah maka ketahuilah bahwasanya Allah SWT tetap hidup dan tidak akan pernah mati.” 

Lalu Abu Bakar membaca salah satu surat Ali Imraan yang ayat ini sudah turun pada saat Perang Uhud, 7 tahun sebelum wafatnya Nabi, dimana saat itu wajah Nabi terkena panah dan berdarah-darah lalu oleh musuh diisukan bahwa Muhammad sudah tewas. Suasana ini membuat beberapa sahabat menjadi down, “buat apa lagi kita berperang jika Nabi sudah wafat?” lalu ayat ini turun.

Kedua, untuk kita melaksanakan apa yang beliau perintahkan. Misal shalat subuh berjama’ah di masjid. Kalau Rasulullaah itu malaikat, bisa kita tolak, “terang aja Nabi bisa, kan Nabi kan malaikat”. 

Tapi beliau manusia, maka kita pasti juga bisa melaksanakan. Prinsipnya, apa yang beliau lakukan, perintahkan itu bisa semua kita lakukan. Kecuali beberapa poin yang hanya beliau lakukan, dan tidak untuk kita lakukan.

Sebutan kedua yang Allah berikan kepada beliau adalah hamba, kita bisa temukan ini dalam ayat pertama Surat Al Isra. Sampai disini, antara kita dengan beliau juga sama, beliau hamba dan kita juga hamba.

Allah juga menyebut Nabi Muhammad dengan utusan, dan sampai disini antara kita dengan beliau terjadi perbedaan. Beliau rasul, kita bukan. Beliau orang yang diutus dan dipilih oleh Allah SWT yang pasti memiliki kualifikasi yang sangat luar biasa. 

Tidak mungkin Allah SWT mengutus orang yang cacat moralnya, cacat ingatannya. Sehingga tidak ada alasan kita untuk tidak mengimani apapun yang datang dari beliau. 

Semuanya.
Terlepas apa yang beliau ucapkan itu tampak atau tidak nampak, logis atau tidak logis, sesuai atau tidak sesuai dengan kemauan kita.

Tidak logis bagi kita jika kita hanya mengimani sesuatu setelah tampak, itu komunis. Komunis itu baru mempercayai sesuatu setelah sesuatu itu kelihatan. Allaah sudah cegah itu di awal surat Al Baqarah.

Ilmu pengetahuan, science harus diletakkan di belakang nash. Ilmu pengetahuan itu kebenarannya relatif, bisa jadi benar bisa jadi salah. 

Kalau ilmu pengetahuan didepan dan nash di belakang, bisa nyasar kita. Misalnya teori Darwin, jika kita yakini duluan maka nenek moyang adalah monyet, padahal tidak demikian yang dikatakan dalam Al Qur’an. Dalam Islam sudah mutlak, nenek moyang kita adalah Nabi Adam as.

Apa yang datang dari Nabi, pasti benar.


Allaah juga menyebut beliau dengan sebutan nabi. Maka dalam dua hal pertama, kita sama dengan beliau sama-sama manusia dan hamba. Tapi dua hal terakhir antara kita dengan beliau, berbeda. Ini dapat menjadi penyeimbang dalam melihat beliau, mencontoh, meneladani, tanpa harus menuhankan atau mencampakkan.


Comments