PKSDEPOK - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta masyarakat jangan khawatir terhadap peredaran beras plastik yang selama ini tengah meresahkan. Pria yang akrab disapa Aher ini menyatakan peredaran beras plastik hanya ditemukan di Bekasi.
"Skalanya kecil, hanya ditemukan di Bekasi. Ditempat lain, laporan dari Badan Ketahanan Pangan tidak ada. Oleh sebab itu masyarakat jangan khawatir untuk membeli beras di pasar tradisional Jabar," tutur Aher kepada wartawan, Senin (25/5/2015).
Aher yang ditemui usai acara Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-43 di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung ini mengaku, Pemprov Jabar sudah melakukan langkah terkait penemuan beras plastik ini. Salah satu langkahnya adalah berkoordinasi dengan kepolisian.
"Ini sudah masuk ranah hukum. Sekarang polisi sudah bergerak. Pergerakan sudah dilakukan lebih cepat sebelum mendapat laporan dari masyarakat," tutur dia. Aher menyebut masalah beras plastik merupakan masalah sensitif lantaran menyangkut hidup orang banyak. Oleh karena itu, keberadaan beras yang diimpor dari Cina ini harus ditangani secepat mungkin.
"Saya apresiasi langkah kepolisian melakukan tindakan cepat. Tapi pengawasan dilapangan harus tetus dilakukan. Khawatirnya masih ada".
Selain berkoordinasi dengan kepolisian, Aher juga meminta para kepala daerah untuk turun langsung ke lapangan guna memeriksa kebenaran peredaran beras plastik. "Bupati/Walikota harus terjun langsung ke lapangan," ucap dia.
Orang nomor satu di Jabar ini menghimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir. Pasalnya secara umum kondisi di Jabar terbilang aman. "Insya allah secara umum di Jawa Barat aman. Masyarakat juga harus tahu mana beras palsu dan mana beras asli. Kita juga akan terus melakukan pengawasan," ujar Aher.
Aher berharap keberadaan beras plastik dapat mereda menjelang bulan ramadan. "Mudah-mudahan minggu ini selesai isu ini. Jangan sampai merebak hingga ramadan," ucap Aher.
Aher menambahkan motif beredarnya beras plastik bukan dari faktor ekonomi. Beliau menduga, motif beras plastik ini untuk mengacaukan pangan di Indonesia. Terlebih Jabar masih menjadi lumbung padi di skala internasional.
"Skalanya kecil, hanya ditemukan di Bekasi. Ditempat lain, laporan dari Badan Ketahanan Pangan tidak ada. Oleh sebab itu masyarakat jangan khawatir untuk membeli beras di pasar tradisional Jabar," tutur Aher kepada wartawan, Senin (25/5/2015).
Aher yang ditemui usai acara Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-43 di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung ini mengaku, Pemprov Jabar sudah melakukan langkah terkait penemuan beras plastik ini. Salah satu langkahnya adalah berkoordinasi dengan kepolisian.
"Ini sudah masuk ranah hukum. Sekarang polisi sudah bergerak. Pergerakan sudah dilakukan lebih cepat sebelum mendapat laporan dari masyarakat," tutur dia. Aher menyebut masalah beras plastik merupakan masalah sensitif lantaran menyangkut hidup orang banyak. Oleh karena itu, keberadaan beras yang diimpor dari Cina ini harus ditangani secepat mungkin.
"Saya apresiasi langkah kepolisian melakukan tindakan cepat. Tapi pengawasan dilapangan harus tetus dilakukan. Khawatirnya masih ada".
Selain berkoordinasi dengan kepolisian, Aher juga meminta para kepala daerah untuk turun langsung ke lapangan guna memeriksa kebenaran peredaran beras plastik. "Bupati/Walikota harus terjun langsung ke lapangan," ucap dia.
Orang nomor satu di Jabar ini menghimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir. Pasalnya secara umum kondisi di Jabar terbilang aman. "Insya allah secara umum di Jawa Barat aman. Masyarakat juga harus tahu mana beras palsu dan mana beras asli. Kita juga akan terus melakukan pengawasan," ujar Aher.
Aher berharap keberadaan beras plastik dapat mereda menjelang bulan ramadan. "Mudah-mudahan minggu ini selesai isu ini. Jangan sampai merebak hingga ramadan," ucap Aher.
Aher menambahkan motif beredarnya beras plastik bukan dari faktor ekonomi. Beliau menduga, motif beras plastik ini untuk mengacaukan pangan di Indonesia. Terlebih Jabar masih menjadi lumbung padi di skala internasional.
"Jual beras model begitu biaya dan harga perkilonya gede juga. Ini motifnya apa, mengacaukan pangan aja," katanya.
sumber : islamedia

Comments
Post a Comment